Berawal dari sekadar bolt on sampai ekstrem, semua model modif terekam selama 2008. Ramainya modifikasi lantaran banjirnya variasi pendukung. Kemudian, Thailand yang menjadi acuan juga lagi bergelimang dengan skubek.

Untuk 2009, ada beberapa style sepertinya akan semakin populer. Virus pertama low rider (LR) dan hot rod (HR). Dimulai 2008 dengan ciri modif yang bisa dikenali lewat mundurnya roda belakang atau mengubah jarak sumbu roda. Masih ada lagi yang bikin low rider kian berkelas, yakni ubahan bodi dan cat serta pemasangan variasi pendukung seperti setang dan knalpot.


Semua harus punya nada yang sama dengan irama ubahan tadi. Cirinya mengilap layaknya krom, atau gelap sekalian alias hitam pekat. Dalam perkembangannya, aliran LR dan HR bertambah ekstrem. “Misalnya bukan hanya bertambah panjang, tapi juga menjadi lebih rendah atau ceper. Artinya, bodi lebih mencium tanah,” jelas Roby Istim Mangolan.

Virus lain yang akan ramai adalah tampilan big matic. Aliran ini diadaptasi dari perkembangan di Jepang. Di sana, skubek ber-cc besar dibuat dengan body kit baru agar tampak semakin besar. Minimal yang digunakan Yamaha Majesty 250 atau Suzuki Brugman. Namun, oleh modifikator Indonesia itu bisa diaplikasi di Yamaha Mio dan teman-temannya.

Sementara itu, penganut aliran ekstrem sepertinya akan tetap menguatkan image skubek tangguh untuk semua medan. Pilihannya, tampilan seperti ATV (all terrain vehicle) atau motor empat roda.

Untuk penggila kecepatan, modifikasi di bagian mesin enggak ada habisnya. Selain di trek lurus, saat ini balapan skubek semakin banyak animonya lantaran sangat didukung ketersediaan suku cadang racing-nya.

Lebih edan lagi, pemakai skubek tak hanya main bore up, tapi sudah masuk ke tingkat engine swap alias mengganti mesin standar dengan punya skubek gede dari luar negeri. Contohnya, Suzuki Spin 125 yang sudah ganti mesin Honda Forza 250 cc.

0 comments